Selasa, 19 Januari 2016

Akustik Perikanan Tangkap




BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Akustik merupakan teori yang membahas tentang gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium. Sedangkann akustik kelautan adalah teori yang membahas tentang gelombang suara dan perambantannya dalam suatu medium air laut. Akustik kelautan merupakan satu bidang kelautan yang umendeteksi  target di kolom perairan dan dasar perairan dengan menggunakan suara sebagai mediannya. Studi kelautan dengan menggunakan akustik sangat m embantu peneliti untuk mengetahui objek yang berada di kolom dan dasar perairan. Objek ini dapat berupa plankton, ikan, jenis subtrat maupun kandungan minyak yang berada di bawah dasar perairan.
Perkembangan akustik yang sangat pesat pada saat Perang Dunia pertama terutama digunakan untuk pendeteksian kapal-kapal selam yang ada dibawah laut. Pendeteksian ini menggunakan  12 hydrophone (yang setara dengan microphone untuk penggunaan didarat) yang diletakan memanjang di bawah kapal laut untuk mendengarkan sinyal suara yang berasal dari kapal selam. Setelah Perang Dunia I, perkembangan akustik kelautan cenderung stgnan ini dikarenakan pada saat itu belum adanya perkembangan lebih lanjut dan penggunakan akustik kelautan lebih difokuskan untuk keperluan militer. Pada saat Perang Dunia di mulai penggunakaan akustik kembali berkembang dengan pesat. Penggunaan torpedo yang menggunakan sinyal akustik untuk mencari kapal musuh adalah penemuan yang hebat pada jaman itu.

B.                 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui Sistem Instrumen Akustik Perikanan Dan Kelautan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.                Sistem Radar
Radar adalah suatu sistem yang digunakan untuk mendeteksi dan menentukan lokasi suatu target berdasar karakteristik perambatan gelombang elektromagnet. Radar bekerja dengan menggunakan gelombang radio yang dipantukan dari permukaan objek.
Radar menghasilkan sinyal energi elektromagnetik yang difokuskan oleh antenna dan ditransmisikan ke atmosfer. Benda yang berada dalam alur sinyal elektromagnetik ini yang disebut objek, menyebarkan energi elektromagnetik tersebut. Sebagian dari energi elektromagnetik tersebut disebarkan kembali ke arah radar. Antena penerima yang biasanya juga antenna pemancar menangkap sebaran balik tersebut dan memasukkannya ke alat yang disebut receiver.

B.                 Sistem Fish Finder
Fish finder merupakan teknologi suatu teknologi pendeteksian bawah air dengan menggunakan perangkat akustik (acoustic instrument). Teknologi ini menggunakan suara atau bunyi untuk melakukan pendeteksian. Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan suara di air adalah 1.500 m/detik, sedangkan kecepatan suara di udara hanya 340 m/detik, sehingga teknologi ini sangat efektif untuk deteksi di bawah air.
Sistem fish finder ialah pengukuran kedalaman laut berdasarkan pulsa getaran suara. Pulsa-pulsa getaran suara tersebut dipancarkan dari transduser kapal merambat melalui media air laut secara vertikal ke dasar laut, kemudian dasar laut atau target lainnya seperti ikan dan lain-lain akan memantulkan pulsa tadi yang kemudian diterima oleh transduser reciever kapal. Getaran pulsa tersebut dipancarkan transducer kapal secara vertikal ke dasar laut, selanjutnya permukaan dasar laut akan memantulkan kembali pulsa tersebut, kemudian diterima oleh transducer kapal  Selang waktu pulsa saat dipancarkan, hingga kembali kembali ke receiver dapat dihitung, sedangkan kecepatan merambat suara di air laut dapat dikatakan tetap, sehingga separuh waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan suara diair dapat dihitung sebagai kedalaman air.

C.                Sistem Sonar
Cara kerja sonar adalah dengan mengirimkan gelombang suara ke dasar perairan kemudian menunggu untuk gelombang pantulan (echo). Data suara dipancar ulang ke operator melalui pengeras suara atau di tampilkan di monitor. Dengan mengetahui kecepatan gelombang media yang diukur dan dengan menggunakan persamaan s = v ( ½ t), maka kita akan mendapatkan jarak yang diukur. Factor setengah di depan t, di atas menyatakan setengah waktu tempuh dari sonar ke tempat pemantulan dan kembali ke sonar. Dengan ungkapan lain, waktu yang diperlukan oleh gelombang untuk merambat dari sonar ke tempat pemantulan.
Pada awalnya sonar hanya memiliki sistem sonar pasif dimana tidak ada sinyal yang dikirim keluar. Namun seiring perkembangan waktu hadirlah sonar aktif yang mana sinyal yang dikirim bisa diterima kembali. Sonar berbeda dengan radar. Sonar menggunakan medium suara yang merambat pada air. Sedangkan radar gelombang elektromagnetik yang merambat pada medium udara.

D.                Sistem Echosounder
Echosounder dikenal terdapat suatu pemancar yang membangkitkan getaran-getaran listrik disalurkan ke suatu alat yang ditempatkan pada dasar kapal dan mengubah energi  listirik menjadi getaran dalam laut. Getaran inilah yang dialirkan dalam bentuk impuls vertikal kedasar laut dan dipantulkan kembali satu pesawat penguat memberikan kepada getaran-getaran gema listrik satu amplitude lebih besar lalu disalurkan ke satu pesawat petunjuk (indikator) dan membuat gambar (Marine Inside, 2013).
Ketika getaran mengenai objek maka sebagian energinya ada yang dipantulkan, dibiaskan ataupun diserap. Untuk gelombang yang dipantulkan energinya, akan diterima oleh recorder ,hasil yang diterima berasal dari pengolahan data yang diperoleh dari penentuan selang waktu antara pulsa yang dipancarkan dari pulsa yang diterima. Dari hasil ini dapat diketahui jarak dari suatu objek yang dideteksi (Dias, 2012).
Echosounder mengukur kedalaman air dengan membangkitkan pulsa akustik pendek atau ping yang dipancarkan kedasar air kemudian mendengarkannya kembali echo dari dasar air itu. Waktu antara pulsa akustik yang dipancarkan dan kembalinya echo adalah waktu yang diperlukan gelombang akustik untuk merambat ke dasar air dan memantul kembali ke permukaan air. Dengan mengetahui waktu dan kecepatan suara dalam air, maka kedalaman dasar air dapat dihitung (Firdaus. 2008).

BAB III
PENUTUP
A.                Kesimpulan
Dari paparan diatas mengenai system instrument akustik perikanan dan kelautan maka dapat di tarik kesimpulan, yaitu sebagai berikut :
·                     Radar menghasilkan sinyal energi elektromagnetik yang difokuskan oleh antenna dan ditransmisikan ke atmosfer.
·                     Sistem fish finder ialah pengukuran kedalaman laut berdasarkan pulsa getaran suara. Pulsa-pulsa getaran suara tersebut dipancarkan dari transduser kapal merambat melalui media air laut secara vertikal ke dasar laut, kemudian dasar laut atau target lainnya seperti ikan dan lain-lain akan memantulkan pulsa tadi yang kemudian diterima oleh transduser reciever kapal.

DAFTAR PUSTAKA
Arnaya, I.N. 1991. Dasar-dasar Akustik. Diktat Kuliah Program Studi Ilmu danTeknologi Kelautan. Institut Pertanian Bogor
Firdaus, Oktri Mohammad. 2010. Analisis Implementasi Global Positioning System (GPS) pada Moda Transportasi di PT.X. Proceeding Seminar on Application and Research in Industrial Technology (SMART 2010), UGM Yogyakarta, 29 Juli 2010.
Firdaus, Herli. 2008. Sistem Visualisasi Profil Dasar Laut dengan Menggunakan
               Echo Sounder. Tugas Akhir. Universitas Indonesia. Depok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar